Selasa, 25 Maret 2008
Joko Tawarkan Konsep Agribisnis Nasional
Ketua Tim Pelaksana Nasional Gerakan Revolusi Lahan ini berpendapat, jika suatu sistem atau konsep yang secara nyata diterapkan, akan membawa perubahan positif bagi ekonomi rakyat di Bandung Barat. Tentunya masalah tersebut mesti didukung oleh lahan yang memadai, sumber daya alam, sumber daya manusia (SDM), modal dan teknologi. "Jika konsep dan bidang tersebut diterapkan maka KBB bisa dijaikan pusta agribisnis nasional, dan itu tidak berlebihan," ungkapnya.
Joko menambahkan, dengan semangat juang dan kebersamaan serta dukungan dari pemerintah daerah, konsep tersebut sudah berjalan dan lengkap apa adanya. Berkat dukungan kelompok tani dan organisasi masyarakat juga. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ini memberanikan diri untuk tampil mengemban amanah masyarakat KBB yang mayoritas petani. "Maka sudah waktunya ada wakil bupati dari kalangan petani," tukasnya.
Masalah tersebut, Joko memandang, tidak semudah membalikkan telapak tangan mengimplementasikan teori dan usulannya. "Kalau bukan ahlinya, inspiratif, cerdas, amanah serta agresif harapan jutaan orang dapat terlaksana," tandas alumnus SMAN Cililin 1984 ini. (bwo)***
Sumber: Radar Bandung (Edisi Kamis 13 Maret 2008)
Kamis, 14 Februari 2008
Festival Saguling, Ode Buat Para Petani
DI tengah lapangan, di bawah langit mendung, mereka duduk bersaf-saf dengan wajah tertunduk. Semua khusyuk menyimak lantunan rajah, dipandu denting-denting kecapi yang berbalut pekat dengan suara rebab nan sendu menyayat. Barisan itu menghadapi sesajian. Sementara, asap mengepul-ngepul dari dupa dan hio. Ya, sesajian dengan latar bendera merah putih. Ada beragam benda yang diletakkan pada "altar". Ada nyiru yang di atasnya terdapat kelapa muda, ayam bakar, telur ayam kampung, dan nasi tumpeng. Di sekitarnya, ada bermacam-macam buah-buahan. Diletakkan pula beraneka hasil bumi mengitari "altar" itu.
Lantunan rajah tersebut merupakan pembuka rangkaian kegiatan bernama "Festival Saguling" yang berlangsung di Desa Sukamulya, Kec. Cipongkor, Kab. Bandung Barat, Rabu (13/2). Di sela-sela kegiatan itu, ketua pelaksana kegiatan, Yosep Bachtiar menghadiahkan barangbang semplak kepada dua tokoh yang hadir saat itu, yakni Rizal Ramli (mantan Menko Ekonomi, Keuangan, dan Industri) serta Ferry Joko Juliantono, Ketua Umum Dewan Tani Indonesia (DTI).
Akan tetapi, sebelum acara resmi itu dimulai, panitia menggelar helaran. Masyarakat setempat ramai-ramai menggotong jampana yang berhiaskan hasil-hasil pertanian. Dalam helaran itu, dimunculkan pula sejumlah ensambel tradisional masyarakat Sunda, seperti dogdog dan angklung buncis.
**
DALAM sambutannya, Yosep mengatakan, penyelenggaraan kegiatan itu bertujuan untuk mengenang kejayaan petani pada masa lalu. Dahulu, para petani mampu mengetam hasil yang mampu mendongkrak kualitas kehidupan mereka. "Salah satu penandanya adalah digelarnya ritus-ritus sebagai ungkapan rasa syukur. Namun sekarang, ritus-ritus itu nyaris punah seiring dengan tak kunjung beruntungnya masyarakat petani kita," katanya.
Pandangan senada diungkapkan ekonom Rizal Ramli. Menurut dia, selama lebih dari 40 tahun, masyarakat petani di Indonesia belum pernah benar-benar menikmati hasil pertanian mereka.
"Kenapa begitu? Soalnya, kebijakan pemerintah selama ini tidak propetani. Pemerintah lebih pro kepada kepentingan pasar global," ujarnya.
Ia memberi contoh, pada zaman Orde Baru, pemerintah membuat kebijakan rasio 3:2 untuk harga gabah dan harga pupuk. "Kebijakan itu betul-betul dijaga. Dengan demikian, para petani hidup dalam keadaan pas-pasan. Mereka tak pernah merasakan untung yang melimpah karena kebijakan itu," ucap Rizal.
Satu hal lagi, kata dia, pemerintah negeri ini masih mengutamakan impor. Akibatnya, Indonesia jadi kecanduan. "Makanya, kalau terus begitu, jangan harap petani bisa menikmati hasil produksi mereka. Seharusnya, pemerintah memberikan kesempatan untuk para petani, melindungi mereka, dan memberikan tingkat keuntungan yang tinggi," tuturnya.
Rizal mengungkapkan data mengenai sejumlah komoditas yang diimpor itu. Beras, misalnya, Indonesia mengimpor 1,5 juta ton hingga 2 juta ton setiap tahunnya. Soalnya, produksi beras nasional yang sebesar 30,5 juta ton tak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang sebesar 32 juta ton.
"Kedelai juga begitu. Kita mengimpor 1,65 juta ton setiap tahun karena konsumsi kedelai nasional sebesar 2,25 juta ton/tahun. Sementara, produksi kedelai nasional hanya 0,6 juta ton/tahun. Komoditas lain, seperti jagung, gula, daging sapi, terigu, sayur-sayuran, dan buah-buahan pun kita impor," katanya.
Hal senada diungkapkan Ketua Umum Dewan Tani Indonesia, Ferry Joko Juliantono. Ia mengaku prihatin dengan kondisi masyarakat petani di negeri ini. "Kita contohkan saja kedelai. Para petani enggan bertanam kedelai karena memang harga petani kalah dengan kedelai impor, terutama dari AS," ujarnya.
Dalam hal ini, Ferry menganggap pemerintah membuat kebijakan setengah hati. Memang, kata dia, pemerintah berharap ada perluasan produksi kedelai. "Akan tetapi, pemerintah masih membuka peluang impor. Itu kan sama juga bohong," tuturnya.
Oleh karena itu, beberapa waktu lalu, DTI melayangkan protes kepada pemerintah. Selain itu, kata Ferry, DTI berharap persoalan pangan tidak lagi ditangani tim ekonomi pemerintahan SBY. "Ambil alih saja oleh lembaga ketahanan pangan yang dipimpin oleh Presiden," ucap Ferry.
Kondisi para petani mungkin demikian adanya. Tema itu bolehlah juga diusung dalam gotra sawala pada rangkaian festival tersebut. Malam harinya, masyarakat petani mendapat suguhan berupa bajidoran dan wayang golek. Festival Saguling, sejatinya, diselenggarakan sebagai ode buat para petani. (Hazmirullah/"PR")***
Sumber berita: HU Pikiran Rakyat
Kamis, 07 Februari 2008
6 Cabup/Cawabup KBB Resmi Mendaftar ke PKB
Sejak DPC PKB Kab. Bandung Barat (KBB) membuka pendaftaran bakal Calon Bupati (Cabub) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) Bandung Barat, sudah enam orang calon yang mendaftar. Dua calon mendaftarkan diri sebagai cabup, yaitu Atori dan Abubakar. Sedangkan yang mendaftar menjadi cawabup adalah Djunaedi (Ketua DPC PKB Kab. Bandung Barat), Asep Hilyatul Arifin, Atang Jaelani Siradj, dan Joko Wiryanto.
Ketua Majelis Kebangkitan (Muskit) DPC PKB Kab. Bandung Barat (KBB), Ir. Untung S. Ainurrozaq didampingi Wakil Ketua DPC PKB, Asep H.M. menyatakan, hingga batas akhir pendaftaran, Jumat (25/1) pukul 18.00 WIB, sudah enam cabup dan cawabup yang resmi mendaftarkan diri. Sedangkan pendaftaran dibuka sejak Senin (21/1).
Di antara enam orang pendaftar tersebut, ada nama baru yang tidak pernah disebut-sebut sebelumnya, yaitu Joko Wiryanto. "Dalam biodatanya, Joko Wiryanto menyebutkan lulusan S2 Pertanian di salah satu perguruan tinggi di Thailand. Ia hanya mencantumkan pekerjaannya sebagai seorang petani. Sedangkan dua orang cawabup lainnya, yaitu Junaedi dan Asep Hilyatul merupakan pengurus DPC PKB Kab. Bandung Barat," kata Asep H.M. kepada "GM" di Padalarang, Jumat (25/1).
Diungkapkannya, seluruh calon sebelum dibawa ke dalam rapat Majelis Kebangkitan (Muskit) DPC PKB KBB terlebih dahulu diverifikasi dan uji publik di media massa. Uji publik di media dengan mengiklankan keenam calon tersebut untuk dinilai oleh masyarakat. Penilaian bisa disampaikan lewat telepon maupun SMS ke nomor 081563415738 atau 022-70074560.
"Muskit PKB Kab. Bandung Barat akan dilaksanakan 27 Januari 2008. Minimalnya dua calon yang akan direkomendasikan ke DPP PKB melalui DPW PKB Jabar. Setelah masuk DPP akan diverifikasi kembali oleh Tim Koordinasi Pemenangan Pemilu (TKPP)," ujarnya.
Peserta Muskit DPC PKB terdiri atas DPC, DPAC, ranting, dan DPW. Di hadapan peserta muskit, seluruh calon yang sudah mendaftar ini diharuskan menyampaikan visi dan misi jika terpilih menjadi Bupati Bandung Barat periode 2008-2013. Peserta muskit akan bertindak sebagai penilai.
"Di dalam muskit akan tampil pula panelis yang berasal dari kalangan akademisi, pengurus Nahdaltul Ulama, dan pengurus DPW PKB Jabar. Para panelis ini nantinya akan melakukan tanya jawab dengan para calon. Pada sesi tanya jawab inilah, peserta muskit bisa memberikan penilaiannya," tambah Untung.
Dihubungi secara terpisah, anggota tim sukses Sekda Kab. Bandung Abubakar, M. Ali Kurniawan, S.Ag. menyatakan ada dua alasan majunya Abubakar sebagai calon bupati dari PKB. Alasan pertama, baru PKB yang membuka pendaftaran dan alasan kedua ingin menunjukkan bahwa Abubakar serius maju menjadi Bupati Bandung Barat.
"Pak Abubakar serius untuk maju jadi Bupati Bandung Barat sehingga begitu PKB membuka pendaftaran segera mendaftar. Dukungan sudah kuat, jadi buat apa lagi ditunda segala," ujar Ali Kurniawan. (B.104)**
Berita diambil dari HU Galamedia
Kamis, 31 Januari 2008
Apa Itu F1 Embio ?
Dengan pemberian F1 Embio sebagai langkah yang mudah dan murah untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah, ini penting dilakukan khususnya pada tanah yang miskin bahan organik. Tanah yang bahan organiknya rendah, populasi mikrobanya akan turun drastis karena tidak tersedianya sumber energi untuk kehidupan mikroba tersebut.
Idealnya tanah harus terdiri dari 45% mineral tanah (padatan tanah), 5% bahan organik tanah, 50% pori-pori tanah yang diisi udara. Mikroba terpenting dalam F1 Embio antara lain bakteri pengikat N (nitogen), bakteri pelepas P (fosfat) dan selulotik mikroba yang dapat merombak sisa-sisa bahan organik tanah.
Mikroba penambat N2 yang terkandung dalam F1 Embio secara asosiatif bermanfaat memfiksasi N2 di udara sehingga tersedia bagi tanaman. Mikroba ini berfungsi menambah jumlah N yang tersedia. Peningkatan jumlah N di dalam tanah sangat menguntungkan. Selain mengandung mikroba penambat N2, F1 Embio diformulasikan pula dari Azotobacter sp, Azaosspirillium sp, Rhizobium sp, bakteri pelarut fosfat, ektomikoriza, endomikoriza, MVA, mikoriza, perombak selulose, dan efektive microorganism lainnya.
Mikroba pelarut P merupakan mikroba penghasil enzim pospatase dan asam-asam organik tertentu yang berguna untuk merombak pupuk P yang tidak tersedia (karena tidak terfiksasi oleh komponen-komponen tanah) menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman. F1 Embio yang dilengkapi dengan pendegradasi selulosa memiliki kemampuan mengubah selulosa menjadi gula-gula sederhana sehingga, beberapa unsur hara baik makro maupun mikro juga termineralisasi. Dengan termineralisasinya unsur-unsur hara makro dan mikro, maka ketersediaan untuk tanaman meningkat. Terbentuknya gula-gula sederhana ini dapat memacu pertumbuhan mikroba tanah, sehingga biologi tanah dapat diperbaiki.
Mengapa Harus Menggunakan F1 Embio?
- Mudah penggunaannya hanya cukup dua kali pemupukan
- Praktis, hemat biaya dan pengurangan pupuk dari biasanya
- Lebih efisien karena sekali penggunaan pupuk sudah cukup
- Hasilnya dapat meningkatkan produktivitas tanaman
Mengapa Harus F1 Embio?
- Semakin maraknya isu lingkungan hidup mendorong penggunaan pupuk yang ramah lingkungan. Dengan penggunaan F1 Embio sebagai soil conditioner maka kerusakan tanah karena penggunaan pupuk kimia berlebihan, dapat dikurangi atau ditiadakan
- Semakin sadar akan mutu produk pertanian bebas residu yang berbahaya bagi kesehatan, pupuk organik dapat menjawab hal itu
Apa Manfaat F1 Embio?
- Meningkatkan perkembangan mikroorganisme tanah, sehingga terjadi keseimbangan sistem ekologi dalam tanah
- Meningkatkan daya serap tanah terhadap air, sehingga menjaga ketersediaan air dalam tanah
- Mencegah kehilangan unsur hara, karena unsur organik mampu meningkatkan kapasitas kation
- Mempengaruhi fisik tanah, tanah jadi gembur, proses oksidasi lebih baik sehingga unsur hara mdah diserap
- Mendekomposisi tanah sehingga unsur makro dan mikro lengkap akan tersedia serta memperkaya unsur hara yang siap diserap tanaman.***
Senin, 21 Januari 2008
F1 Embio Naikkan Produksi 20%-67%
Apa sebenarnya yang dilakukan pria lulusan Universitas Pasundan Jurusan Teknik Industri ini? Dan apa pula kaitannya dengan "laporan" peningkatan produksi padi dari si penelefon yang direspons Joko dengan senyum sumringah. Menurut Joko, itu tadi berita dari petani yang sawahnya digunakan sebagai demplot (demo plot--uji coba) hasil penelitiannya.
Menurut dia, dua lahan uji coba lagi --yang mengaplikasikan teknologi temuannya telah membuahkan hasil. Praktis semua demplotnya nyaris tak ada yang gagal. Bahkan hampir seluruh daerah di Indonesia telah ia datangi dengan satu tujuan, menjajal teknologi temuannya itu.
Khusus di Jabar, tim bentukan Joko ini telah melakukan demplot di Ciamis, Tasikmalaya, Karawang, Kab. Bandung, dan Sumedang. Dari hasil pantauannya, seluruh demplot praktis tidak mengalami kegagalan, sebaliknya hasil panen meningkat 20%-67%. "Namun peningkatan hasil produksi bukanlah misi utama kami. Tujuan utama kami menekan biaya produksi pertanian," ujar Joko menjelaskan.
Adalah H. Sulaeman (57), seorang petani dari Kel. Solokan Jeruk, Kec. Plered, Kab. Purwakarta yang berkesempatan menikmati temuan Joko ini. Baru-baru ini, tepatnya 18 April lalu, H. Sulaeman seakan tak percaya, pada panen kali ini ia mampu meningkatkan produksinya hingga 12,5 ton.
Padahal, tanpa mengaplikasikan temuan Joko, produksi dari lahan seluas setengah hektare yang dimilikinya tidak pernah beranjak dari angka 4 ton. Lantas temuan apa yang telah diaplikasikan pada lahan persawahan milik H. Sulaeman (dan lahan-lahan uji coba lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia)?
**
JOKO menamakannya sebagai F1 Embio, suatu isolat atau kumpulan mikroba dan fungi yang telah diseleksi menjadi bentuk yang bermanfaat bagi sistem ekologi tanah. F1 Embio ini ia formulasikan dari azotobacter sp., azaoss pirilliriza, MVA (modified vaccine ankara), mikoriza, perombak selulosa, dan mikroorganisme efektif lainnya.
Menurut alumni Unpas lulusan tahun 1990 ini, Embio hanyalah satu dari beberapa temuannya yang telah diuji coba puluhan kali dan memiliki kemampuan mengikat unsur nitrogen (N) dari udara, melarutkan unsur fosfat (P), menguraikan selulosa, dan merombak sisa-sisa bahan organik tanah. Sehingga inokulan ini cocok untuk lahan garapan yang tidak produktif lagi akibat penggunaan pupuk anorganik dan pestisida yang berlebihan.
Untuk diaplikasikan pada lahan sawah, F1 Embio dapat diperbanyak satu kali. Ia mencontohkan, dalam 1 botol (500 ml) dapat ditambahkan air 50-60 liter, tambahkan 1 kg gula pasir atau molase ke dalamnya, tambahkan pula humus/tanah dari lokasi sebanyak 1 genggam. Eramkan campuran ini 12-18 jam, hindarkan dari sinar matahari.
Itulah uniknya campuran ini, sangatlah irit, "Satu liter cairan ini bisa dipergunakan untuk lahan seluas satu hektare," katanya. Syaratnya, air harus tersedia secara kontinu, namun tidak sampai menggenang. "Bila larutan ini sudah 'matang', tinggal disemprotkan atau dipercik-percikkan secara merata pada lahan yang telah dipersiapkan," jelasnya.
Karena caranya yang hanya dipercik-percikkan itu, seorang petani Sumedang bernama Priatna memopulerkan Embio sebagai "cai dukun" atau "air dukun". Berkat "air dukun" ini pula Priatna bisa meraup keuntungan 25% dari hasil panennya, itu pun tanpa perlakuan apa-apa lagi, artinya ditinggalkan begitu saja.
Setelah pemercikan, benih padi bisa langsung ditanam dengan kedalaman lebih kurang 3 cm. Setelah ditanam, taburkan kompos atau NPK kompos atau pupuk anorganik seperti urea 50 kg/ha ditambah NPK anorganik 25 kg/ha. Namun, tanpa penambahan pupuk ini pun, padi tetap akan tumbuh dengan baik, yang penting tanah tidak kekeringan.
**
PERBEDAAN padi yang mengaplikasikan Embio mudah diamati. Menurut Balok Sunyoto, seorang petani dari Jawa Timur yang mendampingi Joko Wiryanto, Embio akan membentuk daun padi berwarna hijau tua, warna daun ini terus bertahan ketika bulir-bulir padi sudah menguning. Ciri lain bulir-bulir padi akan bernas, dan pH atau keasaman tanah otomatis akan berada pada kisaran 6,8.
"Ini merupakan cara biologis dalam mengembalikan kualitas tanah hingga menjadi subur," kata Joko. Cara ini telah diakui beberapa petani di seluruh Indonesia. Selain mudah penggunaannya, praktis, hemat biaya, dan mampu mengurangi kebutuhan pupuk. Cara ini lebih efisien karena sekali dipupuk sudah cukup untuk memberikan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, hasilnya pun terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman.
Lebih jauh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Cimahi ini menjelaskan, "Alangkah baiknya bila bercocok tanam padi ini melibatkan teknologi lainnya yang telah saya kembangkan, inilah sebuah 'paket teknologi'." Selain penggunaan "air dukun", juga bisa diikutsertakan teknologi "Tonggeret", sebuah alat mirip sonic bloom yang fungsinya untuk membuka stomata daun agar pemupukan pada daun lebih optimal. Bahkan ia juga berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi hama dan penyakit pada tanaman.
"Dengan mengaplikasikan paket teknologi ini, insya Allah peningkatan produksi padi akan lebih spektakuler," ujarnya. Namun demikian, seperti ia contohkan di beberapa daerah uji cobanya, banyak petani yang melakukan penyemprotan dengan F1 Embio, lantas ditinggalkan begitu saja. Tapi alhamdulillah hasilnya tetap saja ada peningkatan dibandingkan dengan sistem tanam padi konvensional (melibatkan bahan-bahan kimia). Bahkan tak sedikit sukses pun dialami para petani pemula," tambahnya.
Ditanya mengenai kerja sama dengan pihak lain, pria yang senang disebut petani ini terbuka untuk menerimanya, "Kami sudah siap dengan teknologinya, on-farm maupun off-farm, asalkan tidak menjadikan petani sebagai sasaran bisnis mereka. Kami hanya ingin mengangkat harkat derajat dan memberikan posisi tawar bagi para petani, itu saja." (Dede Suhaya)***
Tulisan ini pernah dimuat HU Pikiran Rakyat