Senin, 21 Januari 2008

F1 Embio Naikkan Produksi 20%-67%

TELEFON seluler Ir. Joko Wiryanto tiba-tiba berdering, percakapan pun tampak berlangsung hangat. "Itu tadi telefon dari seorang petani di Riau yang mengabarkan bahwa hasil panennya meningkat," ujarnya. Tiba-tiba ponsel itu berdering lagi, kali ini ia menerima telefon dari seorang petani Sumedang yang melaporkan ada peningkatan pada panen padinya.

Apa sebenarnya yang dilakukan pria lulusan Universitas Pasundan Jurusan Teknik Industri ini? Dan apa pula kaitannya dengan "laporan" peningkatan produksi padi dari si penelefon yang direspons Joko dengan senyum sumringah. Menurut Joko, itu tadi berita dari petani yang sawahnya digunakan sebagai demplot (demo plot--uji coba) hasil penelitiannya.

Menurut dia, dua lahan uji coba lagi --yang mengaplikasikan teknologi temuannya telah membuahkan hasil. Praktis semua demplotnya nyaris tak ada yang gagal. Bahkan hampir seluruh daerah di Indonesia telah ia datangi dengan satu tujuan, menjajal teknologi temuannya itu.

Khusus di Jabar, tim bentukan Joko ini telah melakukan demplot di Ciamis, Tasikmalaya, Karawang, Kab. Bandung, dan Sumedang. Dari hasil pantauannya, seluruh demplot praktis tidak mengalami kegagalan, sebaliknya hasil panen meningkat 20%-67%. "Namun peningkatan hasil produksi bukanlah misi utama kami. Tujuan utama kami menekan biaya produksi pertanian," ujar Joko menjelaskan.

Adalah H. Sulaeman (57), seorang petani dari Kel. Solokan Jeruk, Kec. Plered, Kab. Purwakarta yang berkesempatan menikmati temuan Joko ini. Baru-baru ini, tepatnya 18 April lalu, H. Sulaeman seakan tak percaya, pada panen kali ini ia mampu meningkatkan produksinya hingga 12,5 ton.

Padahal, tanpa mengaplikasikan temuan Joko, produksi dari lahan seluas setengah hektare yang dimilikinya tidak pernah beranjak dari angka 4 ton. Lantas temuan apa yang telah diaplikasikan pada lahan persawahan milik H. Sulaeman (dan lahan-lahan uji coba lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia)?

**

JOKO menamakannya sebagai F1 Embio, suatu isolat atau kumpulan mikroba dan fungi yang telah diseleksi menjadi bentuk yang bermanfaat bagi sistem ekologi tanah. F1 Embio ini ia formulasikan dari azotobacter sp., azaoss pirilliriza, MVA (modified vaccine ankara), mikoriza, perombak selulosa, dan mikroorganisme efektif lainnya.

Menurut alumni Unpas lulusan tahun 1990 ini, Embio hanyalah satu dari beberapa temuannya yang telah diuji coba puluhan kali dan memiliki kemampuan mengikat unsur nitrogen (N) dari udara, melarutkan unsur fosfat (P), menguraikan selulosa, dan merombak sisa-sisa bahan organik tanah. Sehingga inokulan ini cocok untuk lahan garapan yang tidak produktif lagi akibat penggunaan pupuk anorganik dan pestisida yang berlebihan.

Untuk diaplikasikan pada lahan sawah, F1 Embio dapat diperbanyak satu kali. Ia mencontohkan, dalam 1 botol (500 ml) dapat ditambahkan air 50-60 liter, tambahkan 1 kg gula pasir atau molase ke dalamnya, tambahkan pula humus/tanah dari lokasi sebanyak 1 genggam. Eramkan campuran ini 12-18 jam, hindarkan dari sinar matahari.

Itulah uniknya campuran ini, sangatlah irit, "Satu liter cairan ini bisa dipergunakan untuk lahan seluas satu hektare," katanya. Syaratnya, air harus tersedia secara kontinu, namun tidak sampai menggenang. "Bila larutan ini sudah 'matang', tinggal disemprotkan atau dipercik-percikkan secara merata pada lahan yang telah dipersiapkan," jelasnya.

Karena caranya yang hanya dipercik-percikkan itu, seorang petani Sumedang bernama Priatna memopulerkan Embio sebagai "cai dukun" atau "air dukun". Berkat "air dukun" ini pula Priatna bisa meraup keuntungan 25% dari hasil panennya, itu pun tanpa perlakuan apa-apa lagi, artinya ditinggalkan begitu saja.

Setelah pemercikan, benih padi bisa langsung ditanam dengan kedalaman lebih kurang 3 cm. Setelah ditanam, taburkan kompos atau NPK kompos atau pupuk anorganik seperti urea 50 kg/ha ditambah NPK anorganik 25 kg/ha. Namun, tanpa penambahan pupuk ini pun, padi tetap akan tumbuh dengan baik, yang penting tanah tidak kekeringan.

**

PERBEDAAN padi yang mengaplikasikan Embio mudah diamati. Menurut Balok Sunyoto, seorang petani dari Jawa Timur yang mendampingi Joko Wiryanto, Embio akan membentuk daun padi berwarna hijau tua, warna daun ini terus bertahan ketika bulir-bulir padi sudah menguning. Ciri lain bulir-bulir padi akan bernas, dan pH atau keasaman tanah otomatis akan berada pada kisaran 6,8.

"Ini merupakan cara biologis dalam mengembalikan kualitas tanah hingga menjadi subur," kata Joko. Cara ini telah diakui beberapa petani di seluruh Indonesia. Selain mudah penggunaannya, praktis, hemat biaya, dan mampu mengurangi kebutuhan pupuk. Cara ini lebih efisien karena sekali dipupuk sudah cukup untuk memberikan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, hasilnya pun terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

Lebih jauh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Cimahi ini menjelaskan, "Alangkah baiknya bila bercocok tanam padi ini melibatkan teknologi lainnya yang telah saya kembangkan, inilah sebuah 'paket teknologi'." Selain penggunaan "air dukun", juga bisa diikutsertakan teknologi "Tonggeret", sebuah alat mirip sonic bloom yang fungsinya untuk membuka stomata daun agar pemupukan pada daun lebih optimal. Bahkan ia juga berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi hama dan penyakit pada tanaman.

"Dengan mengaplikasikan paket teknologi ini, insya Allah peningkatan produksi padi akan lebih spektakuler," ujarnya. Namun demikian, seperti ia contohkan di beberapa daerah uji cobanya, banyak petani yang melakukan penyemprotan dengan F1 Embio, lantas ditinggalkan begitu saja. Tapi alhamdulillah hasilnya tetap saja ada peningkatan dibandingkan dengan sistem tanam padi konvensional (melibatkan bahan-bahan kimia). Bahkan tak sedikit sukses pun dialami para petani pemula," tambahnya.

Ditanya mengenai kerja sama dengan pihak lain, pria yang senang disebut petani ini terbuka untuk menerimanya, "Kami sudah siap dengan teknologinya, on-farm maupun off-farm, asalkan tidak menjadikan petani sebagai sasaran bisnis mereka. Kami hanya ingin mengangkat harkat derajat dan memberikan posisi tawar bagi para petani, itu saja." (Dede Suhaya)***

Tulisan ini pernah dimuat HU Pikiran Rakyat

Jumat, 18 Januari 2008

Kembangkan Pertanian Murah

RUMAH di "barak" Yon Armed 2 Cimahi, di belakang Pasar Antri, amat sederhana. Bahkan, tak sedikit bagian rumah yang sudah bocor ketika air hujan mengguyur bumi "Saluyu Ngawangun Jati Mandiri".

Namun, siapa sangka dari rumah sederhana itu lahir berbagai inovasi di bidang pertanian yang bisa melipatgandakan produksi. "Sebagai anak petani, saya amat prihatin melihat nasib petani yang selalu terpuruk. Petani hanya menikmati sisa, padahal mereka yang menanam," ungkap Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Cimahi, Joko Wiryanto, baru-baru ini.

Joko bersama tim pelaksana nasional revolusi lahan terpacu dengan kerusakan lahan akibat pemakaian pupuk kimia. "Sebagian besar tanah di Indonesia sudah rusak dan kehilangan unsur hara, akibat intensifikasi memakai pupuk kimia. Tanah menjadi kering dan tidak subur lagi," katanya.

Sejak tahun 1986, pria kurus ini melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan "formula" penyubur tanah. "Kalau melihat pendidikan, sebenarnya tidak nyambung. Saya lulusan Teknik Industri Unpas, namun bergelut dalam bidang pertanian, khususnya inovasi obat dan alat pertanian," tuturnya, tersenyum.

Sudah banyak inovasi yang dihasilkan Joko Wiryanto, seperti sistem pertanian tanpa pengolahan (sistem coblak), cairan media rehabilitasi lahan, kompos organik padat (KOP), alat tongeret, dan sebuah alat kecil untuk mencegah datangnya hama dan virus. "Untuk alat terakhir yang ukurannya sekitar 5 cm x 10 cm, belum diberi nama. Saya juga bingung mau diberi nama apa?" katanya.

Joko sudah memiliki ide untuk menghasilkan inovasi lainnya, seperti pembuatan musuh alami dari bakteri atau jamur, deteksi kesuburan tanah, infra merah untuk pengeringan panen, dan lain-lain. Apabila petani memakai media rehabilitasi lahan dan KOP yang jumlahnya hanya Rp 400.000,00/hektar, maka bisa menekan biaya produksi. "Selama ini, para petani mengeluh dengan harga gabah yang merosot. Padahal, dengan memakai teknologi sederhana yang saya temukan membuat petani tetap untung. Bahkan, harga gabah Rp 1.000,00/Kg pun para petani tetap tersenyum," katanya. (Sarnapi)***

Tulisan ini pernah dimuat HU "Pikiran Rakyat" (10 Mei 2007)